Modul Ujian Dinas : Bahasa Indonesia

Dengan membaca modul ini Anda akan paham mengenai Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang merupakan alat pemersatu bangsa sebagaimana terukur dalam butir ketiga Sumpah Pemuda tahun 1928.

Bahan tulisan pada modul ini bisa Anda gunakan untuk pembelajaran Ujian Dinas Bahasa Indonesia.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional :

  1. lambang kebanggaan nasional
  2. lambang identitas nasional
  3. alat pemersatu masyarakat yang berbeda suku dan bahasa
  4. alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah

Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara :

  1. bahasa resmi kenegaraan
  2. bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan
  3. bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional
  4. alat pengembangan kebudayaan nasional dan IPTEK

Ejaan Bahasa Indonesia

  • Ejaan van Ophuijsen tahun 1901;
  • Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, berlaku sejak 16 Agustus 1972 (EYD);
  • Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), sejak Peraturan Mendikbud Nomor 5 Tahun 2015.

1. Pemakaian Huruf

a. Huruf Abjad

Cukup jelas

b. Huruf Vokal

Cukup jelas

c. Huruf Konsonan

Cukup jelas

d. Huruf Diftong

Terdapat 4 huruf diftong, merupakan gabungan huruf vokal.

Huruf DiftongAwalTengahAkhir
aibalairungpandai
auautodidaktaufiqharimau
eieigendomgeisersurvei
oiboikotamboi

e. Gabungan Huruf Konsonan

Gabungan huruf konsonan, masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.

Gab Huruf KonsonanAwalTengahAkhir
khkhususakhirtarikh
ngngaraibangunsenang
nynyatabanyak
sysyaratmusyawaraharasy

f. Huruf Kapital

Dipakai pada :

  • Nama jabatan dan pangkat, diikuti nama orang. Contoh : Wakil Presiden Jusuf Kalla; Sekretaris Kementerian Agama; Gubernur Sulawesi Selatan.
  • Awal kalimat petikan langsung. Contoh : Ayah berteriak, “Tutup pintu itu!”
  • Nama geografi. Contoh : Amerika Utara; Gunung Merapi; Selat Sunda; Terusan Suez; Kecamatan Pasar Rebo; Gang Kelinci.

g. Huruf Miring

Dipakai pada :

  • Judul buku, nama majalah atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka. Contoh : Kami sudah membaca novel Layar Terkembang; Berita heboh itu muncul dalam koran Republika.
  • Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata dalam kalimat. Contoh : Huruf terakhir abad ada d; Dalam bab ini tidak dibahas penggunaan alat komunikasi.
  • Ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing. Contoh : Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.

h. Huruf Tebal

Dipakai pada :

  • Menegaskan bagian yang sudah ditulis miring. Contoh Huruf dh, seperti pada kalimat Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
  • Menegaskan bagian-bagian karangan seperti judul buku, bab, atau subbab. Contoh :
    • 1.1 Latar Belakang dan Masalah
    • 1.1.1 Latar Belakang
    • 1.1.2 Masalah

2. Penulisan Kata

a. Kata Dasar

Cukup jelas

b. Kata Berimbuhan

  • Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya. Contoh : berlari, gemetar, lukisan
  • Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contoh : dwiwarna, pascasarjana, nonkolaborasi.

Catatan: Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Misalnya: pro-Barat; anti-PKI, non-AC

c. Bentuk Ulang

Bentuk ulang dirangkaikan dengan tanda hubung (-). Contoh: ibu-ibu; sayur-mayur; serba-serbi; tunggang-langgang

d. Gabungan Kata

Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.

Contoh:

  • kambing hitam;
  • cendera mata;
  • rumah sakit jiwa

Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.

Contoh:

  • bertanggung jawab;
  • garis bawahi;
  • sebar luaskan

Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.

Contoh:

  • mempertanggungjawabkan;
  • menggarisbawahi;
  • disebarluaskan

Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.

Contoh:

  • kacamata;
  • segitiga;
  • saputangan;
  • beasiswa;
  • dukacita;
  • apalagi

e. Pemenggalan Kata

Cukup jelas

f. Kata Depan

Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:

  • Kain itu disimpan di dalam lemari.
  • Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
  • Ia berasal dari Pulau Penyengat.

g. Partikel

Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:

  • Bacalah buku itu baik-baik!
  • Siapakah gerangan dia?
  • Apatah gunanya bersedih hati?

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya:

  • Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
  • Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai. Misalnya:

  • Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
  • Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
  • Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

h. Singkatan dan Akronim

Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.

Misalnya:

A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
Suman Hs. Suman Hasibuan
M.B.A. master of business administration
M.Hum. magister humaniora
Sdr. saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati

Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

hlm. halaman
sda. sama dengan di atas
ybs. yang bersangkutan
dkk. dan kawan-kawan

Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:

cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
kg kilogram
Rprupiah

Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

BIN Badan Intelijen Negara
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani Kongres Wanita Indonesia
Kalteng Kalimantan Tengah
Suramadu Surabaya Madura

Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu pemilihan umum
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran

i. Angka dan Bilangan

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.

Misalnya:

  • Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
  • Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
  • Di antara 72 anggota yang 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.

Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

  • Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
  • Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
  • Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

j. Bilangan Tingkat

Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

  • abad XXI
  • abad ke-21
  • abad kedua puluh satu

Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

Misalnya:

  • Tigaraksa
  • Rajaampat
  • Simpanglima

k. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

  • Rumah itu telah kujual.
  • Majalah ini boleh kaubaca.
  • Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

l. Kata Sandang Si dan Sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

  • Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
  • Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
  • Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
  • Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.

Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama Tuhan. Misalnya:

  • Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
  • Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.

3. Pemakaian Tanda Baca

a. Tanda Titik (.)

(cukup jelas)

b. Tanda Koma (,)

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan.

Misalnya:

  • Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
  • Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
  • Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

  • Ny. Khadijah, M.A.
  • Bambang Irawan, S.H., M.Hum.

Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

Misalnya:

  • Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan suara.
  • Soekarno, Presiden Pertama RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok

c. Tanda Titik Koma (;)

Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Misalnya:

  • Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
  • Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.

Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.

Misalnya:

Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah :

  • berkewarganegaraan Indonesia;
  • berijazah sarjana S-1;
  • berbadan sehat; dan
  • bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.

Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Misalnya:

  • Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
  • Agenda rapat ini meliputi
    • pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
    • penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
    • pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

d. Tanda Titik Dua (:)

Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Misalnya:

  • Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
  • Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:

  • Ketua: Ahmad Wijaya
  • Sekretaris: Siti Aryani
  • Bendahara: Aulia Arimbi

e. Tanda Hubung (-)

Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yangq dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Misalnya:

  • 11-11-2016
  • p-a-n-i-t-i-a

Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.

Misalnya:

  • meng-ukur
  • dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
  • 23/25 (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)

Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.

Misalnya:

  • di-sowan-i (bahasa Jawa, ‗didatangi‘)
  • ber-pariban (bahasa Batak, ‗bersaudara sepupu‘)
  • di-back up
  • pen-tackle-an

f. Tanda Pisah (–)

Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

  • Kemerdekaan bangsa itu — saya yakin akan tercapai — diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
  • Keberhasilan itu — kita sependapat — dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.

Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.

Misalnya:

  • Soekarno-Hatta — Proklamator Kemerdekaan RI — diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
  • Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia — amanat Sumpah Pemuda — harus terus digelorakan.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Misalnya:

  • Tahun 2010 — 2013
  • Tanggal 5 — 10 April 2013
  • Jakarta — Bandung

g. Tanda Tanya (?)

Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya:

  • Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
  • Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

h. Tanda Seru (!)

(cukup jelas)

i. Tanda Ellipsis (…)

Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya:

  • Penyebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

Misalnya:

  • “Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?”
  • “Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.”

Catatan:

  • Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
  • Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).

j. Tanda Petik (“…”)

Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

  • Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
  • Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
  • Film “Habibie dan Ainun” merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.
  • Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.

Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:

  • “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
  • Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

k. Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.

Misalnya:

  • Ia bertanya, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
  • “Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
  • “Kita bangga karena lagu ‘Indonesia Raya‘ berkumandang di arena olimpiade itu,” kata Ketua KONI.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.

Misalnya:

  • tergugat ‘yang digugat’
  • noken ‘tas khas Papua’
  • tadulako ‘panglima’
  • policy ‘kebijakan’
  • money politics ‘politik uang’

l. Tanda Kurung ((…))

Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Misalnya:

  • Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
  • Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
  • Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.

Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.

Misalnya:

  • Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
  • Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.

m. Tanda Kurung Siku ([…])

Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.

Misalnya:

  • Kami men[d]engar bunyi gemerisik.
  • Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
  • Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.

n. Tanda Garis Miring (/)

Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.

Misalnya:

  • mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’
  • dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’
  • buku dan/atau majalah ‘buku dan majalah atau buku atau majalah’
  • harganya Rp1.500,00/lembar ‘harganya Rp1.500,00 setiap lembar’

o. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.

Misalnya:

  • Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
  • Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)
  • Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
  • 5-2-‘13 (‘13 = 2013)

4. Penulisan Unsur Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa.

Unsur serapan dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar :

  1. Unsur asing yang belum sepenuhnya terserap, seperti force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation de l’homme par l’homme.
  2. Unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Pilihan Kata/Diksi

Ada ungkapan yang menyebutkan pilihan kata adalah cerminan seseorang. Ungkapan tersebut ada benarnya mengingat kata adalah unsur yang sangat penting dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan.

Pilihan kata atau yang lazim juga disebut diksi adalah mutu dan kelengkapan kata yang dikuasai seseorang untuk berkomunikasi.

Dengan penguasaan diksi, orang mampu menggunakan secara tepat dan cermat berbagai perbedaan dan persamaan makna kata sesuai dengan tujuan dan gagasan yang akan disampaikan. Di samping itu, dengan pilihan kata yang cermat, akan diperoleh diperoleh kosakata yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki pembaca dan pendengar.

Dalam pembahasan mengenai diksi, terdapat lima hal penting yang harus dipahami, yaitu:

  1. syarat pilihan kata;
  2. pembentukan kata;
  3. makna tersirat dan tersurat;
  4. ungkapan idiomatic; dan
  5. kata-kata yang bermiripan.

1. Syarat Pilihan Kata

Terdapat tiga syarat dalam pilihan kata, yakni :

  • tepat;
  • benar; dan
  • lazim.

a. Tepat

Yang dimaksud dengan tepat adalah bahwa kata itu dapat mengungkapkan gagasan secara cermat. Ketepatan dalam pemilihan kata dapat meminimalisasi kesalahpahaman pendengar/pembaca.

Contoh salah :

  1. Di toko mana saya dapat membeli tas itu? ujar Dita kepada Dewi.
  2. “Terima kasih,” kilah Riza ketika ia dibelikan sepatu oleh kekasihnya.
  3. Aliando tetap mengacuhkan peringatan itu, meskipun telah berulang kali diperingatkan oleh gurunya.
  4. Ibu Yuli memajukan usul kepada Ketua RT 01 tentang perbaikan jalan.
  5. Rapat kelulusan peserta diklat diadakan pada tanggal 12 November 2016 jam 10.00.

Seharusnya :

  1. Pada kalimat (1) pemakaian kata ujar tidak tepat dan seharusnya diganti dengan kata tanya karena kalimat tersebut merupakan kalimat Tanya. Jadi, kalimat (1) dengan pilihan kata yang tepat adalah “Di toko mana saya dapat membeli tas itu?” tanya Dita kepada Dewi.
  2. Pada kalimat (2) pemakaian kata kilah tidak tepat karena kata kilah berarti ‘tipu daya’ atau ‘alasan’. Oleh karena itu, kata kilah pada kalimat (2) seharusnya diganti dengan kata ucap/ujar/kata untuk menunjukkan suatu pernyataan sehingga kalimat (2) menjadi “Terima kasih,” kata Riza ketika ia dibelikan sepatu oleh kekasihnya.
  3. Pada kalimat (3) pemakaian kata mengacuhkan tidak tepat karena kata mengacuhkan berarti ‘mengindahkan, memedulikan.’ Oleh karena itu, kata mengacuhkan seharusnya diubah menjadi mengabaikan/tidak mengacuhkan sehingga kalimat (3) menjadi Aliando tetap mengabaikan peringatan itu, meskipun telah berulang kali diperingatkan oleh gurunya.
  4. Pada kalimat (4) pemakaian kata memajukan tidak tepat karena kata itu berarti ‘menjadi maju’, sedangkan yang dimaksud dalam kalimat (4) adalah menyampaikan usul. Kata yang tepat untuk kalimat (4) adalah mengajukan yang berarti ‘menyampaikan’. Dengan demikian, kalimat (4) menjadi Ibu Yuli mengajukan usul kepada Ketua RT 01 tentang perbaikan jalan.
  5. Pada kalimat (5) pemakaian kata jam tidak tepat karena kata jam berarti ‘alat pengukur waktu’ dan ‘lama suatu kegiatan’. Kata jam pada kalimat (5) diganti dengan kata pukul. Dengan demikian, kalimat (5) menjadi Rapat kelulusan peserta diklat diadakan pada tanggal 12 November 2016 pukul 10.00.

b. Benar

Yang dimaksud dengan benar adalah bahwa kata itu sesuai dengan kaidah kebahasaan. Pilihan kata yang benar dapat memudahkan pendengar/pembaca dalam menyerap informasi yang disampaikan oleh pembicara/penulis.

Contoh tidak benar :

  1. Saudara tidak dapat merubah jadwal pelaksanaan diklat.
  2. Pengrusakan gedung itu terjadi tadi malam.
  3. Siapakah yang mengkelola keuangan organisasi itu?
  4. Pirsawan televisi tidak pernah melewatkan siaran berita pagi.
  5. Kita harus mengetrapkan kaidah bahasa dalam penulisan surat dinas.

Kata merubah, pengrusak, mengkelola, pirsawan, dan mengetrapkan yang tertera dalam kelima kalimat di atas tidak dibentuk/dituliskan secara benar sehingga tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku.

Oleh karena itu, bentuk yang benar dari kata-kata tersebut adalah mengubah, perusak, mengelola, pemirsa, dan menerapkan.

c. Lazim

Yang dimaksud dengan lazim adalah bahwa kata yang dipakai adalah dalam bentuk yang sudah dibiasakan dan bukan merupakan bentuk yang dibuat-buat. Pilihan kata yang lazim dapat menghindarkan pendengar/pembaca dari perasaan janggal terhadap kata yang diucapkan/dituliskan oleh pembicara/penulis.

Contoh salah :

  1. Ayahnya telah mati di rumah sakit.
  2. Kucing kesayangannya wafat mendadak.

Pada kalimat (1) pemakaian kata mati tidak lazim karena kata mati tidak selayaknya digunakan pada manusia yang kehilangan nyawa, kata yang seharusnya dipilih adalah meninggal/wafat.

Sementara itu, kata wafat pada kalimat (2) pemakaian kata wafat juga tidak lazim karena kata wafat tidak cocok digunakan pada hewan yang sudah tidak bernapas, kata yang seharusnya dipilih adalah mati.

Jadi, pembetulan dua kalimat tersebut dengan plihan kata yang lazim adalah :

  1. Ayahnya telah meninggal di rumah sakit.
  2. Kucing kesayangannya mati mendadak.

Kata meninggal, mati, dan wafat berarti ‘tidak hidup’, hilang nyawanya. Ketiga kata itu mempunyai kelaziman masing-masing.

Selain itu, contoh ketidaklaziman penggunaan kata adalah penggunaan kata yang sudah tidak dipakai lagi saat ini untuk komunikasi umum, seperti contoh berikut.

  1. Karena udara hari ini panas sekali, kami mencari bayu di luar rumah.
  2. Rini memetik puspa di taman.
  3. Mereka meminum banyu untuk menghilangkan dahaga.

Seharusnya :

  1. Kata bayu pada kalimat (1) hendaknya diganti dengan kata angin;
  2. kata puspa pada kalimat (2) hendaknya diganti dengan kata bunga; dan
  3. kata banyu pada kalimat (3) hendaknya diganti dengan kata air karena kata bayu, puspa, dan banyu sudah tidak lazim lagi digunakan saat ini.

Namun demikian, kata bayu, puspa, dan banyu sampai sekarang masih digunakan dalam karangan sastra.

2. Pembentukan Kata

Diksi atau pilihan kata yang baik juga ditentukan oleh pembentukan kata yang benar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kata adalah sebagai berikut :

a. Kata dasar yang dimulai dengan konsonan k, p, t, dan s jika didahului dengan awalan me- akan mengalami pelesapan pada huruf pertama kata tersebut.

Contoh :

(me- + konsonan k)
me- + kelola mengelola
me- + korek mengorek
me- + kejar mengejar
(me- + konsonan p)
me- + pukulmemukul
me- + panggilmemanggil
me- + pindaimemindai
(me- + konsonan t)
me- + tamparmenampar
me- + taat + -imenaati
me- + terjemah + -kanmenerjemahkan
(me- + konsonan s)
me- + salin menyalin
me- + suap menyuap
me- + sukses + -kan menyukseskan

b. Konsonan rangkap pada awal kata tidak melesap jika ditambah imbuhan me-, termasuk kata dasar yang diawali konsonan k, p, s, dan t.

Contoh:

me- + dramatisasimendramatisasi
me- + fragmenmemfragmen
me- + kritikmengkritik (konsonan k tidak melesap)
me- + praktik + -kanmempraktikkan (konsonan p tidak melesap)
me- + transfermentransfer (konsonan t tidak melesap)
me- + sponsor + -imensponsori (konsonan s tidak melesap)

Selain itu, kata dasar yang dimulai dengan konsonan c juga tidak melesap jika didahului oleh awalan me-.

Contoh:

me- + cubit mencubit (bukan menyubit)
me- + cuci mencuci (bukan menyuci)
me- + cinta + i mencintai (bukan menyintai)
me- + colok mencolok (bukan menyolok)
me- + cocok + -kan mencocokkan (bukan menyocokan)
me- + coba mencoba (bukan menyoba)

c. Awalan me- berubah bentuk menjadi menge- jika mendahului kata dasar yang hanya memiliki satu suku kata.

Contoh:

me- + tesmengetes
me- + tikmengetik
me- + bommengebom
me- + bormengebor
me- + catmengecat
me- + cekmengecek
me- + lapmengelap
me- + lasmengelas

3. Makna Tersurat dan Tersirat

Selain berdasar pada syarat dan pembentukannya, pemilihan kata juga didasari oleh pilihan pembicara/penulis dalam mengungkapkan atau menyembunyikan makna suatu kata.

  • Kata dalam makna tersurat adalah kata dalam makna yang wajar (sebenarnya, yaitu sesuai dengan makna yang disandangnya, tanpa tambahan makna.
  • Sementara itu, kata dalam makna tersirat adalah kata yang mempunyai sejumlah pertalian pikiran yang dapat menimbulkan arti lain dengan berbagai nilai rasa.

Contoh kata dengan makna tersurat dan tersirat:

  • Ayah sedang membaca buku di kamar. (tersurat)
  • Pemimpin harus dapat membaca situasi dengan cermat. (tersirat)
  • Roberto sedang berdinas ke Denpasar. (tersurat)
  • Setelah matahari terbenam, Rosida berdinas di warung kopi kesukaannya. (tersirat)
  • Kepala anak itu terbentur pintu rumah. (tersurat)
  • Anak tunggalnya sedang terbentur kasus pidana. (tersirat)
  • Situasi Surrabaya telah dinyatakan aman. (tersurat)
  • Perompak itu telah diamankan oleh polisilaut. (tersirat)
  • Sudahkah Anda mempunyai sebuah kamus bahasa? (tersurat)
  • Bagi saya tidak ada kamus menyerah sebelum cita-cita tercapai. (tersirat)

4. Ungkapan Idiomatik

Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti.

Ungkapan yang bersikap idiomatik terdiri atas dua atau tiga kata yang dapat memperkuat pilihan kata atau diksi di dalam tulisan.

Contoh pemakaian ungkapan idiomatik adalah sebagai berikut :

  • Menteri Keuangan Republik Indonesia bertemu dengan Menteri Agama Malaysia.

Selain itu, ada beberapa ungkapan idiomatik yang berbentuk seperti contoh di atas, yaitu:

  • sehubungan dengan
  • sesuai dengan
  • berhubungan dengan
  • bertepatan dengan
  • sejalan dengan

Ungkapan idiomatik lain yang perlu Anda perhatikan ialah sebagai berikut.

  • terdiri atas
  • terjadi dari
  • disebabkan oleh
  • berbicara tentang
  • bergantung pada
  • berdiskusi tentang
  • berbicara mengenai
  • berkenaan dengan
  • antara … dan
  • baik … maupun
  • bukan … melainkan
  • tidak … tetapi

5. Kata-Kata yang Bermiripan

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata yang bermiripan, kata-kata bukanlah kata yang memiliki makna yang sama (sinonim). Akan tetapi, kata-kata sangat mirip baik dari segi bentuk maupun dari segi makna.

Kata-kata yang bermiripan tersebut adalah sebagai berikut:

  • sesuatu dan suatu
  • tiap-tiap dan masing-masing
  • pukul dan jam
  • dari dan daripada
  • lain-lain, seperti, antara lain, dan misalnya

a. sesuatu dan suatu

Kata sesuatu dan suatu harus digunakan secara tepat. Kata sesuatu tidak diikuti kata benda, sedangkan kata suatu harus diikuti kata benda.

Contoh:

  • Ia sedang mencari sesuatu di ruangan ini.
  • Pada suatu waktu kakak saya datang dengan wajah berseri-seri.

b. tiap-tiap dan masing-masing

Sama halnya dengan kata sesuatu, kata tiap-tiap harus diikuti oleh kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh diikuti oleh kata benda.

Contoh:

  • Tiap-tiap kelas terdiri atas 20 orang peserta.
  • Setiap manusia dewasa sudah seharusnya memiliki prinsip masing-masing.

c. pukul dan jam

Penggunaan kata pukul dan jam harus dilakukan secara tepat. Kata pukul digunakan untuk menunjukkan waktu, sedangkan kata jam untuk menunjukkan jangka waktu (durasi waktu).

Contoh:

  • Pelatihan ini mulai pukul 8.00 pagi dan berakhir pukul 12.00
  • Pelajaran bahasa Indonesia berlangsung selama 4 jam.

d. dari dan daripada

Kata dari dan daripada tidak sama penggunaannya. Kata dari digunakan untuk menunjukkan asal, bahan, arah, dan jarak waktu. Sementara itu, kata daripada berfungsi membandingkan.

Contoh penggunaan kata dari:

  • Saya mendapat tugas dari atasan saya.
  • Gelang itu terbuat dari perak.
  • Ia datang dari Depok.
  • Dari kecil sudah tampak kecerdasannya.

Contoh penggunaan kata daripada:

  • Ruangan di lantai I lebih sejuk dibandingkan dengan ruangan di lantai II.
  • Jumlah peserta diklat tahun ini lebih banyak daripada tahun lalu.

e. lain-lain, seperti, antara lain, dan misalnya

Meskipun kata dan lain-lain sama kedudukannya dengan kata seperti, antara lain, dan misalnya. Penggunaan kata-kata itu harus dipertimbangkan secara cermat.

Contoh:

  • Pembuatan peraturan itu harus melibatkan ahli kesehatan, ahli kependudukan, pemilik industri, dan lain-lain.
  • Kantor kami memerlukan barang-barang, seperti komputer, lemari, dan meja.
  • Pembuatan peraturan itu harus melibatkan, antara lain, ahli kesehatan, ahli kependudukan, dan pemilik industri.

Ketidakcermatan Berbahasa dalam Komunikasi

Dalam bab ini dibahas tentang ketidakcermatan berbahasa yang seringkali terjadi dalam komunikasi.

Ketiadaan Subjek

Syarat minimal terbentuknya suatu kalimat yaitu harus memiliki subjek dan predikat. Karena ketidakcermatan pemakai bahasa, subjek dalam kalimat acap kali hilang atau tidak tampak karena penyusunan kalimat yang tidak baik.

Tidak adanya subjek dapat dilihat dari contoh kalimat berikut ini.

  1. Dalam rapat itu menghasilkan kesepakatan terkait jadwal kegiatan.
  2. Bagi semua peserta diklat harus memenuhi minimal jumlah kehadiran.

Dua kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang tidak memiliki subjek.

Untuk kalimat pertama, subjek kalimat hilang — yang seharusnya rapat itu — karena didahului kata dalam. Pembetulan kalimat tersebut dapat dilakukan dengan cara menghilangkan kata dalam sehingga kalimat menjadi:

Rapat itu menghasilkan kesepakatan terkait jadwal kegiatan

atau menambahkan suatu kata yang akan berfungsi sebagai subjek, sehingga kalimat menjadi:

Dalam rapat itu kami menghasilkan kesepakatan terkait jadwal kegiatan.

Sementara itu, pada kalimat kedua, subjek kalimat hilang karena didahului kata bagi. Pembetulan kalimat tersebut dapat dilakukan dengan cara menghilangkan kata bagi, sehingga menjadi:

Semua peserta diklat harus memenuhi minimal jumlah kehadiran.

Di mana dan Yang Mana sebagai Kata Hubung

Pada hakikatnya kata di mana adalah kata tanya yang digunakan untuk mengetahui tempat/letak sesuatu atau kata untuk menujukkan tempat yang tidak tentu, sedangkan kata yang mana adalah kata tanya yang digunakan untuk mengetahui pilihan seseorang.

Namun demikian, seringkali kita lihat (atau dengar) kata di mana — kadang-kadang juga ditulis dimana — dan yang mana digunakan sebagai kata hubung, yang seolah-olah menghubungkan antarkata, antarfrasa, bahkan antarkalimat.

Kata ini tampaknya dianggap merupakan padanan “yang alami” dari kata sambung bahasa Inggris where ‘di mana’ dan which ‘yang mana’, seperti pada contoh di bawah ini.

  1. Bintaro adalah kota di mana terjadinya tabrakan maut dua KRL yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa.
  2. Proses pemungutan pajak yang mana bertujuan untuk menambah pemasukan negara dilakukan dalam beberapa tahap.

Kedua kalimat di atas akan menjadi lebih baik dengan cara menghilangkan/mengganti kata tanya di mana dan yang mana yang difungsikan sebagai kata hubung di dalamnya.

Perbaikan yang tepat untuk kedua kalimat di atas adalah :

  • Bintaro adalah kota tempat terjadinya tabrakan maut dua KRL yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa.
  • Proses pemungutuan pajak yang bertujuan untuk menambah pemasukan negara dilakukan dalam beberapa tahap.

Penggunaan kata di mana dan yang mana selalu ditulis terpisah dan hanya digunakan sebagai kata tanya.

Contoh:

  • Di mana kota tempat terjadinya peristiwa tabrakan kecelekaan KRL?
  • Di mana ada gula, di situ ada semut.
  • Yang mana baju yang akan kamu pakai besok malam?

Kesalahan Penggunaan Kata Di dan Di-

Penulisan kata di dapat dilakukan dalam dua cara, yakni dengan cara dipisahkan atau digabungkan dengan kata yang mengikutinya. Kata di yang ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya berfungsi sebagai kata depan atau kata penunjuk, sedangkan kata di- yang ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya berfungsi sebagai awalan.

Permasalahannya, masih sering kita temukan penyalahgunaan kata di dan di- dalam penulisan, seperti pada contoh kalimat di bawah ini.

  • Pulang dari kota itu, kami bertiga di hadang oleh sekawanan orang tak di kenal. Di sana kami di todong dan di mintai sejumlah uang. Peristiwa itu terjadi tiga minggu lalu dilapangan parkir sebuah pusat perbenlanjaan di Jakarta.

Kalimat di atas memperlihatkan ketidakcermatan penggunaan kata di dan di-.

Perbaikan yang tepat untuk kalimat tersebut adalah

  • Pulang dari kota itu, kami bertiga dihadang oleh sekawanan orang tak dikenal. Di sana kami ditodong dan dimintai sejumlah uang. Peristiwa itu terjadi tiga minggu lalu di lapangan parkir sebuah pusat perbenlanjaan di Jakarta.

Pemakaian kata ir- sebagai akhiran

Penggunaan -ir yang dianggap sebagai masih sangat banyak digunakan, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Dalam berbagai kesempatan seperti percakapan sehari-hari, diskusi, ceramah, bahkan dalam berita Koran penggunaan -ir ini masih sering digunakan, padahal tidak ada akhiran –ir dalam bahasa Indonesia.

Bentuk yang tepat dari kesalahan penggunaan –ir sebagai akhiran adalah –isasi. Akhiran –isasi (-asi) digunakan untuk membentuk nomina proses, cara, perbuatan.

Berikut adalah kesalahan penggunaan kata berakhiran –ir beserta pembetulannya:

SalahBenar
legalisirlegalisasi
netralisirnetralisasi
koordinirkoordinasi
akomodirakomodasi
realisir realisasi
politisirpolitisasi
lokalisirlokalisasi

Pemakaian Bentuk Kata yang Rancu

Ketidakcermatan berbahasa juga sering ditemukan dalam pemakaian bentuk kata yang rancu, yakni kacaunya dua macam pengungkapan kata/lebih dalam suatu kalimat. Biasanya terjadi pada kalimat yang menggunakan kata hubung di dalamnya.

Contoh:

  • Meskipun ayahnya dicaci-maki, tetapi dia tidak marah.

Kalimat di atas menjadi rancu karena menggunakan dua kata hubung pertentangan yang memiliki fungsi sama.

Pembetulannya cukup dengan menghilangkan salah satu kata hubung tersebut. Ada tiga alternatif pembetulan yang tepat untuk kalimat contoh di atas, yaitu:

  • Meskipun ayahnya dicaci-maki, dia tidak marah.
  • Ayahnya dicaci-maki, tetapi dia tidak marah.
  • Dia tidak marah meskipun ayahnya dicaci-maki.

Penggunaan Kata yang Tidak Baku

Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Sumber utama yang telah ditentukan dalam pemakaian bahasa baku ialah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kecermatan menggunakan kata baku sangat penting dalam konteks percakapan atau penulisan yang bersifat resmi. Karena pekerjaan sehari-hari pegawai instansi pemerintah kerap berhadapan dengan situasi resmi, penggunaan kata baku harus dicermati lebih dalam.

Berikut contoh bentuk-bentuk kata tidak baku beserta pembetulannya.

salahbenar
legalisir praktek legalisasi praktik
seksama saksama
dipersilahkan dipersilakan
standarisasi standardisasi
obyek objek
kwitansi kuitansi
karir karier
menghimbau mengimbau
berhimpitan berimpitan
menghembuskan mengembuskan
resiko risiko
frustasi frustrasi
terlanjur telanjur
terlantar telantar
merubah mengubah

Penulisan Gabungan Kata yang Keliru

Gabungan kata merupakan penyusunan dua kata yang membentuk makna baru. Gabungan lazim ditemui dalam penulisan. Penulisan gabungan kata haruslah cermat dengan memperhatikan unsur imbuhan yang mendampinginya.

Secara umum, gabungan kata yang berupa kata majemuk dan gabungan kata yang hanya diikuti salah satu imbuhan (awalan atau akhiran) ditulis serangkai, sedangkan gabungan kata yang diapit awalan dan akhiran ditulis terpisah.

Namun demikian, tidak semua gabungan kata tanpa imbuhan ditulis terpisah, gabungan kata yang dianggap sudah padu ditulis serangkai.

Berikut contoh-contoh penulisan gabungan kata yang keliru beserta pembetulannya.

salahbenar
kerjasama kerja sama
terimakasih terima kasih
sepakbola sepak bola
olah raga olahraga
salahbenar
antar kotaantarkota
halal bihalalhalalbihalal
garisbawahigaris bawahi
menggaris bawahimenggarisbawahi
bertanggungjawabbertanggung jawab
mempertanggung jawabkanmempertanggungjawabkan

Salah Memaknai Kata

Setiap kata memiliki makna masing-masing, makna tersebut berbeda-beda satu sama lain, tetapi bisa juga bermiripan antar satu kata dengan kata lainnya.

Ketidakcermatan memilih kata dengan makna yang sebaliknya dari kata yang dimaksud sering terjadi untuk beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia.

Berikut adalah contoh-contoh penggunaan kata dengan makna yang berkebalikan sehingga menyebabkan kalimat menjadi rancu.

  1. Karena sudah sangat kesal dengan sikapnya, ia mengacuhkan setiap tingkah-laku sahabatnya itu.
  2. Tuan Takur seketika menjadi tidak bergeming saat mendengar kabar buruk yang datang tiba-tiba kepadanya.
  3. Teduh dinominasikan sebagai pegawai teladan karena dalam enam bulan terakhir dia selalu absen ke kantor.

Kata mengacuhkan, bergeming, dan absen merupakan contoh kesalahan memaknai kata sehingga kata-kata tersebut tidak sesuai dengan konteks kalimatnya. Kata mengacuhkan dalam kalimat pertama berasal dari kata dasar acuh yang artinya ‘peduli; mengindahkan’ sehingga pilihan kata yang tepat seharusnya adalah kata yang memiliki makna sebaliknya, yaitu tidak mengacuhkan atau mengabaikan yang artinya ‘tidak peduli’, seperti berikut.

  • Karena sudah sangat kesal dengan sikapnya, ia tidak mengacuhkan setiap tingkah-laku sahabatnya itu. (benar)

Sementara itu, kata bergeming dalam kalimat kedua berasal dari kata dasar geming yang memiliki arti ‘tidak bergerak sedikit juga; diam saja’ sehingga pilihan kata yang tepat seharusnya adalah kata yang memiliki makna sebaliknya, yakni tidak bergeming yang berarti ‘bergerak; tidak diam).

  • Tuan Takur seketika menjadi bergeming saat mendengar kabar buruk yang datang tiba-tiba kepadanya.

Contoh terakhir atau kalimat yang ketiga, kata absen dalam kalimat tersebut memiliki arti ‘tidak masuk; tidak hadir’ sehingga pilihan kata yang tepat seharusnya adalah kata yang memiliki makna sebaliknya, yakni masuk atau hadir yang artinya ‘datang’.

  • Teduh dinominasikan sebagai pegawai teladan karena dalam enam bulan terakhir dia selalu hadir ke kantor.

Catatan:

Untuk kata absensi ‘ketidakhadiran’ yang sering juga salah dimaknai, pilihan kata yang tepat sebagai penggantinya ialah presensi yang memiliki arti ‘kehadiran’.

Pleonasme

Pleonasme sejatinya merupakan salah satu jenis majas yang ada dalam khazanah bahasa Indonesia. Majas pleonasme adalah salah satu bentuk dari majas penegasan yang berfungsi untuk menegaskan suatu arti kalimat dengan menambahkan kata.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pleonasme berarti ‘pemakaian kata-kata yang lebih dari apa yang diperlukan’. Dengan kata lain, pleonasme berarti menambahkan keterangan dalam suatu kalimat, tetapi sesungguhnya keterangan tersebut tidak dibutuhkan.

Meskipun dibuang, kalimat tersebut memiliki makna yang tetap. Penggunaan majas pleonasme tidaklah salah, tetapi membuat kalimat menjadi tidak efektif.

Contoh kalimat yang tidak efektif karena penggunaan pleonasme adalah sebagai berikut.

  • Luhur segera turun ke bawah ketika melihat Tillah berdiri di halaman rumahnya.
  • Prisilla sudah meninggalkan Indonesia sejak dari kanak-kanak.
  • Menara Petronas menjulang tinggi ke langit.

Kata turun ke bawah, sejak dari, dan menjulang tinggi merupakan bentuk pleonasme yang membuat kalimat menjadi tidak efektif.

Untuk membuat kalimat tersebut menjadi efektif dapat dilakukan dengan cara menghilangkan salah satu kalimat yang bercetak miring.

  • Luhur segera turun ketika melihat Tillah berdiri di halaman rumahnya.
  • Prisilla sudah meninggalkan Indonesia sejak kanak-kanak.
  • Menara Petronas menjulang ke langit.

Daftar Pustaka

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia






ARTIKEL TERKAIT
About PortalKPPN 138 Articles
Unofficial Mekanisme Perbendaharan dan Pencairan Dana APBN. Baca : Disclaimer!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.